MPLS Hari Ketiga SDN 1 Silea Kenalkan Pancasila dan7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Lewat Praktik
Halaman SD Negeri 1 Silea masih basah oleh embun ketika ratusan siswa berbaris rapi, Rabu pagi. Seragam batik bermotif merah marun berpadu celana dan rok senada, ditambah topi merah yang seragam, membuat halaman sekolah tampak seperti lautan warna merah di bawah pohon yang menjulang.
Hari itu adalah hari ketiga Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru SD Negeri 1 Silea. Setelah dua hari sebelumnya diisi pengenalan lingkungan dan tata tertib, kegiatan hari ketiga difokuskan pada penguatan karakter dan pembiasaan baik yang akan terus dijalankan sepanjang tahun ajaran.
Pagi dimulai seperti biasa, dengan lantunan Asmaul Husna yang bergema dari halaman sekolah. Sembari berdiri berjajar, anak-anak yang baru beberapa hari mengenakan seragam sekolah dasar ini menirukan lafal demi lafal nama-nama Allah yang dituntun oleh guru pendamping.
Tak lama berselang, suasana berubah lebih riang. Anak-anak bergerak mengikuti irama Senam Anak Indonesia Hebat, sebuah senam yang belakangan digalakkan di sekolah-sekolah dasar sebagai bagian dari gerakan hidup sehat sejak usia dini. Sejumlah guru tampak turun langsung ke tengah barisan, memberi contoh gerakan sambil sesekali membetulkan posisi tangan atau kaki siswa yang masih kikuk mengikuti hitungan.
Selesai berolahraga, giliran perut yang diperhatikan. Siswa mendapat menu makan sehat bergizi. Kegiatan ini sekaligus jadi pijakan untuk sesi berikutnya: sosialisasi tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, yang mencakup pola makan sehat, bangun pagi, hingga rajin beribadah dan gemar membaca.
Dari sinilah agenda hari itu bergerak ke bagian yang mungkin paling ditunggu: pengenalan nilai-nilai Pancasila. Bukan lewat ceramah panjang di depan kelas, melainkan lewat praktik langsung. Satu per satu siswa diminta berdiri di depan kelas, membacakan kelima sila Pancasila sekaligus menyebutkan lambang yang mewakili tiap sila.
Di salah satu ruang kelas, dinding yang dihiasi gambar pelangi dan bintang jadi saksi momen itu. Karpet hijau digelar di lantai, tempat sebagian siswa duduk bersila sambil menunggu giliran maju. Seorang guru memegang pengeras suara kecil, memandu satu demi satu nama dipanggil, sementara guru lain berjaga di sisi lain ruangan, sesekali membantu siswa yang lupa urutan sila atau tertukar menyebut lambangnya.
Sesi itu bukan sekadar hafalan. Bagi anak usia enam atau tujuh tahun yang baru pertama kali berdiri sendiri di depan teman-temannya, membacakan Pancasila sambil menyebut lambang burung Garuda, Bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng, hingga padi dan kapas, adalah latihan kepercayaan diri sekaligus pengenalan dasar negara yang akan terus mereka pelajari hingga kelas enam nanti.
Rangkaian hari itu ditutup dengan operasi semut, kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah yang melibatkan seluruh siswa baru. Sesuai namanya, anak-anak bergerak serempak memungut sampah kecil yang tercecer di halaman dan sekitar kelas, sebuah cara sederhana menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan sejak hari-hari pertama mereka mengenal sekolah.
Setelah operasi semut usai, kegiatan ditutup dengan agenda penutup seperti hari-hari sebelumnya, sebelum siswa dipersilakan kembali ke rumah masing-masing.
Bagi orang tua yang mengantar dan menunggu di luar pagar sekolah, tiga hari MPLS ini menjadi gambaran awal bagaimana anak-anak mereka akan dibimbing selama enam tahun ke depan. Bukan hanya soal membaca dan berhitung, tapi juga soal berdiri tegak di depan teman-teman, melafalkan sila demi sila, dan belajar bahwa menjaga kebersihan dimulai dari memungut sampah sendiri.
MPLS di SD Negeri 1 Silea akan terus berlanjut dengan agenda-agenda pembiasaan serupa, seiring anak-anak ini mulai terbiasa dengan rutinitas baru yang akan menjadi bagian dari keseharian mereka di sekolah.