SD Negeri 1 Silea Rayakan Hari Anak dengan Aneka Lomba
SD Negeri 1 Silea memperingati Hari Anak Nasional Tahun 2026 dengan mengusung tema "Sayang Anak, Lindungan dan Bangun Masa Depan". Perayaan digelar sederhana, tanpa panggung besar atau tamu kehormatan berderet, tapi halaman sekolah pagi itu penuh tawa anak-anak yang berebut jadi juara.
Rangkaian acara dibuka dengan senam sehat bersama. Seluruh siswa berbaris di lapangan, mengikuti gerakan yang dipandu dari depan, sebelum akhirnya bubar barisan untuk lanjut ke sesi lomba yang sudah dinanti sejak pagi.
Empat lomba lain menyusul setelah senam: makan kerupuk, lari kelereng, sepak bola mini, dan bola keranjang. Lomba makan kerupuk, seperti biasa, jadi yang paling ramai tepuk tangan — kerupuk digantung di tali rafia, anak-anak mengejar dengan tangan terikat di belakang, sebagian berhasil menggigit dalam hitungan detik, sebagian lain harus mencoba berkali-kali sampai teman-temannya tertawa geli menonton.
Lari kelereng menuntut hal berbeda: bukan kecepatan kaki, melainkan kesabaran menjaga keseimbangan sendok agar kelereng tidak jatuh. Beberapa siswa terlihat berjalan pelan-pelan dengan wajah serius, sementara yang lain justru berlari kencang dan kelerengnya menggelinding di tengah jalan.
Sepak bola mini dan bola keranjang mengambil porsi paling ramai peserta — disambut sorak-sorai dari pinggir lapangan dari para orang tuas siswa.
Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli sebagai momentum mengingatkan bahwa anak-anak berhak atas perlindungan, tumbuh kembang yang layak, serta ruang untuk bermain dan belajar. Tema tahun ini, "Sayang Anak, Lindungan dan Bangun Masa Depan", ingin menegaskan bahwa kasih sayang dan rasa aman adalah dasar sebelum bicara soal prestasi.
Di SD Negeri 1 Silea, pesan itu diterjemahkan lewat cara paling sederhana: memberi anak-anak hari untuk bermain bersama, tanpa tekanan nilai atau target akademik. Guru-guru berperan sebagai wasit sekaligus penyemangat, berpindah dari satu titik lomba ke titik lain sambil sesekali membantu anak yang kesulitan mengikat tali sepatu atau merapikan sendok kelereng yang terjatuh.
Orang tua yang sempat menjemput lebih awal pun ikut menonton dari pinggir pagar sekolah, sebagian merekam video anaknya berlomba lewat ponsel. Suasana yang tercipta bukan kompetisi ketat, melainkan kebersamaan — pemenang dan yang belum menang sama-sama pulang dengan cerita untuk diceritakan di rumah.
Pihak sekolah berharap kegiatan semacam ini bisa terus digelar setiap tahun sebagai bagian dari kalender kegiatan siswa, tidak hanya untuk merayakan Hari Anak Nasional, tapi juga menjaga agar sekolah tetap menjadi tempat yang menyenangkan untuk didatangi anak-anak setiap pagi.